The Lukis Tradition in Indonesia: Lukis in the Sense of What It Used to Be

| Sanento Yuliman & Zico Albaiquni
Oh Djinn Oh Djinnuernica No More War (WIP) Zico Albaiquni Photo by Zico Albaiquni. 2024. All rights reserved.

The Lukis Tradition in Indonesia: Lukis in the Sense of What It Used to Be

The Lukis Tradition In Indonesia: Lukis In The Sense Of What It Used To Be | Sanento Yuliman & Zico Albaiquni

Republished with permission from the family of Sanento Yuliman.

Several languages spoken in Indonesia have the word 'lukis'. It is found, for example, in Indonesian Malay (lukis),1 Minangkabau (lukih) and Javanese. Since this word means something slightly different in each language, one could ask: What did the word lukis originally mean?

One possible answer could be found in Kawi or Old Javanese script. In Kawi, the verb anglukis means ‘to paint’ in the current sense, but also means ‘to carve’(L. Mardiwarsito, Kamus Jawa Kuna Indonesia, Nusa Indah, Ende, 1981). The word anglukis in New Javanese still holds both meanings (see W.J.S. Poerwadarminta, Baoesastra Djawa, Pakempalan Triwikrama, Ngajogja, 1930).

So Javanese did not limit lukis to the act of scribbling lines and applying colors. Creating a form by carving was also, in Indonesian, lukis.

To get an idea of how lukis was understood, we can look at the Javanese manuscript Tantu Panggelaran (IN: Tempat Panggelaran EN: The Place of Panggelaran) composed in the sixteenth century, in the section where Batara Guru commanded several gods to descend to Java Island to impart various kinds of knowledge (kepandaian). This section is interesting because it tells us that in ancient Javanese society, various skills (kepandaian) were believed to have come from the gods. For example, blacksmithing came from Hyang Brahma, goldsmithing from Hyang Mahadeva, house-building skills from Hyang Wismakarma, and sewing, weaving and fashion skills from Batara Sri.

Artisanal skills (kepandaian) were prized because it was believed that the gods themselves were the first artisans and had taught them to humans.

Amongst the gods who were sent down to Java, one brought lukis. That was Bagawan Ciptagupta, who as a lukis-maker was named Empu Ciptangkara.

Batara Guru told him:

'Bagawan Ciptagupta manglukisa, hamarnah-manarhalengkara sakarupa ri cipta, masarana mpune tanganta, mature mpu Ciptaangkarangarananta nglukis.'

(Create lukis O Bagawan Ciptagupta, compose a wonderful form based on that which appears in your mind, with the use of your empu (thumb); thereby you will be known as Empu Ciptangkara the lukis-maker).2

Lukis is the work of arranging or composing (hamarnah-marnah) a wonderful form (lengkara or ornament) in accordance with the intent of the Creator (cipta). The name of the lukis-maker is important here. In heaven, he is called Ciptagupta, 'the hidden Creation'. In the realm of birth, he is called Ciptangkara, 'creator of Creation' or 'one who realises Creation'.

 + Doa Ibu Sepanjang Zaman Zico Albaiquni The consecration of the installation at Cepuri Parangkusumo, Yogyakarta. Photo by Siam Artista. 2017. All rights reserved.

'Creation (cipta)' in the old sense means thought (fikiran), idea or wishful thinking; note the expression 'mengheningkan cipta'—a moment of silence—in Indonesian, or 'cipta' in Sundanese or Javanese.

Why did Batara Guru say 'using the empu (IN: ibu jari, EN: thumb) of your hand?' This is because the author of Tantu Panggelaran wanted to explain the origin of the title 'empu' for lukis makers. Metalsmiths are also called 'empu' for the same reason: metalsmiths use their big toe to clamp their tools. Poets could also be recognised as 'empu' through this logic explained in Tantu Panggelaran: they use the thumb of the hand to grip their writing instruments.

It doesn't matter whether this genealogy of 'empu' is correct or not. What interests us is, first, that lukis makers are recognised as 'empu' and second, that the title is associated with handwork or hand skills.

By combining the dictionary definition with the story narrated in Tantu Panggelaran, we get a somewhat clearer picture of the historical understanding of lukis. We may do so in two steps: (a) lukis brings forth thoughts (pikiran), ideas or imaginings into beautiful or visually pleasing compositions; (b) lukis are composed by scribbling lines, by applying colours, or by carving, with a tool held in the hand or gripped by the fingers.

Today, to carve (mengukir) and to paint (melukis) are distinct ideas, so is engraving (ukiran) in relation to painting (lukisan). There is a strong assumption of equivalence between the word 'melukis' and 'to paint', between 'lukisan' and 'painting'. However, whereas the Anglo-Saxon words (to paint, painting) are derived from the material of paint, the Indonesian words (melukis, lukisan), according to the original text, were not.

We do not intend to return the word lukis to its sixteenth century definition. In looking at the 'lukis tradition' in Indonesia we are not referring to conceptual thinking (pikiran) or coloured carvings. Many people already recognise a carving tradition (tradisi ukir) in Indonesia. In contrast, people generally do not know about the lukis tradition (in the sense discussed by this essay) in some parts of our country, including our fine art experts. They usually know more about the tradition of paints (tradisi seni lukis) in Europe.

 + Doa Ibu Sepanjang Zaman Zico Albaiquni, 2017. All rights reserved.

We will look into traditions as far back as we can determine. That is why we will talk about lukisan on rock cliffs and on cave walls, which are found scattered across several islands. We will also talk about lukis paintings (lukis melukis) in Majapahit, although we can only rely on scarcely available written sources. The rest of us will go from island to island, searching for and recording this tradition.


Translator's Notes

1. Sanento Yuliman refers simply to 'bahasa Melayu.' This term as been clarified in translation as ‘Indonesian Malay’ instead of ‘Malay’ to distinguish it from the Malaysian and Singaporean varieties, as the term may suggest today.

2. Edited with reference to Simon Soon’s translation in 'Terminologies of "Modern" and "Contemporary" "Art"' in Southeast Asia's Vernacular Languages: Indonesian, Javanese, Khmer, Lao, Malay, Myanmar/Burmese, Tagalog/Filipino, Thai and Vietnamese,” Southeast of Now: Directions in Contemporary and Modern Art in Asia 2, no.2 (2018), 123:

Tradisi Lukis Di Indonesia: Lukis Dalam Pengertian Sediakala (1983) | Sanento Yuliman
 + Oh Djinn Oh Djinnuernica No More War (WIP) Zico Albaiquni, 2024. Photo by Zico Albaiquni. All rights reserved.

Tradisi Lukis Di Indonesia: Lukis Dalam Pengertian Sediakala (1983)

Tradisi Lukis Di Indonesia: Lukis Dalam Pengertian Sediakala (1983)

Kata 'lukis' tersebar dalam beberapa bahasa di Indonesia. Kata itu terdapat, misalnya, dalam bahasa Melayu, Minangkabau ('lukih'), dan bahasa Jawa. Karena dalam perjalanan kita dapat berubah arti, maka patut timbul pertanyaan: Apa arti kata 'lukis' dalam pemakaian sediakala?

Pertanyaan itu dapat dijawab dengan menengok, misalnya, bahasa Kawi atau bahasa Jawa Kuna tertulis. Di sana ternyata kata 'anglukis' di samping berarti melukis dalam pengertian sekarang, juga berarti mengukir (L. Mardiwarsito, Kamus Jawa Kuna Indonesia, Nusa Inda, Ende, 1981). Kata 'anglukis' dalam bahasa Jawa baru masih mempunyai kedua arti itu (lihat W.J.S. Poerwadarminta, Baoesastra Djawa, Pakempalan Triwikrama, Ngajogja, 1930).  

Jadi yang boleh disebut 'melukis' di zaman dulu bukanlah hanya merupakan (membuat apa) dengan mencoretkan garis dan mengoleskan warna. Merupa dengan memahat juga disebut 'melukis'. 

Untuk beroleh gambar tentang faham orang dulu tentang kerja “melukis”, kita dapat memeriksa kitab Tantu Panggelaran (Tempat Panggelaran) yang dikarang pada abad ke-XVI, di bagian ketika batara Guru menitahkan beberapa dewa supaya turun ke Pulau Jawa untuk mengajarkan sejumlah kepandaian. Bagian ini menarik, karena dari situ kita mengetahui bahwa dalam masyarakat Jawa di zaman dulu bermacam-macam kepandaian dipandang berasal dari dewa-dewa. Misalnya, pandai besi berasal dari Hyam Brahma, pandai mas dari Hyang Mahadewa, kepandaian membangun rumah dari Hyang Wismakarma, dan kepandaian mengantih, menenun, serta berpakaian, dari Batari Sri. 

Dapat dibayangkan berbagai kepandaian tangan itu dihargai orang, karena kepercayaan bahwa dewa-dewa sendirilah yang telah mengajarkannya kepada manusia dengan menjadi para tukang yang pertama. 

Di antara para dewa itu ada yang diutus untuk turun ke Pulau Jawa menjadi pelukis. Itulah bagawan Ciptagupta, yang sebagai pelukis bernama Empu Ciptangkara. 

Begini titah batara Guru kepadanya:

Bagawan Ciptagupta manglukisa, hamarnah-manarhalengkara sakarupaka ri cipta, masarana mpune tanganta; matangnya mpu Ciptangkarangarananta nglukis.

(Bagawan Ciptagupta melukislah, gubahlah hiasan menurut wujud dari cipta, dengan menggunakan empu tanganmu; maka empu Ciptangkara namamu sebagai pelukis). 

Melukis dipahami sebagai kerja mengatur atau menyusun (hamarnah-marnah) rupa yang indah (lengkara atau hiasan) menurut wujud yang berasal dari cipta. Nama dewa pelukis itu sendiri patut diperhatikan. Di Kahyangan, di alam halus, ia bernama Ciptagupta, 'Cipta  Tersembunyi'. Di dunia, di alam lahir, ia bernama Ciptangkara 'Pembuat Cipta' atau 'Orang Yang Mewujudkan Cipta'. 

 + Doa Ibu Sepanjang Zaman Zico Albaiquni Konsekrasi di Cepuri Parangkusumo, Yogyakarta. Foto: Siam Artista. 2017. Hak cipta semua.

'Cipta' dalam pengertian lama ialah fikiran, gagasan, atau angan-angan (perhatikan ungkapkan 'mengheningkan cipta' dalam bahasa Indonesia, ataupun kata 'cipta' dalam bahasa Sunda dan Jawa). 

Mengapa Batara Guru mengatakan 'dengan menggunakan empu (ibu jari) tanganmu?' Karena pengarang Tantu Panggelaran ingin menerangkan asal-usul sebutan 'empu' untuk pelukis. Juga sebutan 'empu' untuk pandai besi diterangkan dengan cara begitu: karena pandai besi menggunakan ibu jari kaki untuk menjepit salah satu alat. Kita dapat menerapkan jalan fikiran pengarang Tantu Panggelaran ini kepada gelar 'empu' untuk para pujangga: mereka menggunakan ibu jari tangan untuk menjepit alat tulis. 

Tidak penting apakah keterangan tentang asal-usul sebutan itu benar atau tidak. Yang menari bagi kita ialah, pertama, pelukis mendapat sebutan 'empu' dan kedua, bahwa sebutan itu dihubungan dengan kerja tangan atau kecakapan tangan. 

Dengan menggabungkan keterangan dari kamus dan dari Tantu Panggelaran, kita mendapat gambaran agak lebih jelas tentang paham melukis di masa dulu, yang dapat kita rumuskan dalam dua tahap, begini: (a) melukis ialah melahirkan pikiran, gagasan atau angan-angan ke dalam gubahan rupa yang indah atau yang memuaskan penglihatan; (b) gubahan itu dibuat dengan mencoretkan garis dan mengoleskan warna, atau dengan mengukir, dikerjakan dengan alat yang digenggam atau dijepit di antara jari. 

Kita di zaman sekarang telah memisahkan dengan tegas pengertian mengukir dari pengertian melukis, demikian pula pengertian ukiran dari pengertian lukisan. Kuat sekali anggapan tentang kesepadanan antara kata 'melukis' dan kata to paint, antara 'lukisan' dan painting. Padahal kata Anglosakon itu (to paint, painting) mengandung konotasi cat (paint), sedang kata Indonesia itu (melukis, lukisan) menurut aslinya, tidak. 

Kita tidak bermaksud menggunakan kata 'lukis' seperti abad ke XVI. Di dalam menengok 'tradisi lukis' di Indonesia, kita tidak akan membicarakan pikiran, termasuk ukiran yang diberi warna. Banyak orang mengetahui tentang adanya tradisi ukir di mana- mana di Indonesia. Sebaliknya, tentang adanya tradisi lukis (dalam pengertian sekarang) di beberapa daerah di negeri kita, pada umumnya orang tidak tahu, termasuk para ahli seni rupa kita. Mereka ini biasanya banyak mengetahui tradisi seni lukis di Eropa. 

 + Doa Ibu Sepanjang Zaman Zico Albaiquni, 2017. Hak cipta semua.

Termasuk ke dalam tradisi yang akan kita tengok ialah tradisi yang pernah ada, sejauh kita dapat mengetahuinnya. Itulah sebabnya kita akan membicarakan lukisan di tebing karang dan di dinding gua, yang ditemukan tersebar di beberapa pulau. Kita juga akan  membicarakan  lukis melukis di Majapahit,  meskipun kita hanya dapat berpijak pada sumber tertulis, inipun langka. Selebihnya kita akan pergi dari pulau ke pulau, mencari dan mencatat tradisi itu. 

Links & Info